Selasa, 25 Juli 2017

Di Tangan Kreatif, Limbah Batok Kelapa Disulap Menjadi Kerajinan Bernilai Jual Tinggi


      Salah satu sumber daya alam yang dimiliki oleh Desa Lapa Laok adalah kelapa yang cukup melimpah, mayoritas warga lapa laok hanya mengambil daging kelapanya untuk dijual atau dibuat bahan olahan makanan. Namun, untuk batok tidak terlalu dimanfaatkan untuk menambah penghasilan. Kerajinan batok kelapa memang agak sulit untuk dibuat. Akan tetapi jika sudah mengerti tentang cara dan tips dalam membuat kerajinan tangan dari batok kelapa, maka kesulitan itu akan menjadi kemudahan. Batok kelapa memang tidak terlalu di manfaatkan dari pada yang lain seperti batang pohon yang bisa digunakan sebagai bahan bangunan. Daun yang bisa dibuat ketupat dan lidi yang bisa digunakan menjadi sapu. Namun sekarang ditangan kreatif masyarakat desa lapa laok limbah batok yang tidak terlalu berharga bisa menjadi kerajinan yang bernilai jual tinggi. Salah satu masyarakat yang cukup kreatif disinii adalah bapak kepala dusun (apel) Bujaan yaitu bapak Mas’odi. Kami kelompok KKN 78 bekerja sama dengan beliau dan beberapa masyarakat lain untuk mengolah limbah batok kelapa menjadi lebih berguna dan bernilai jual tinggi. Kami saling bertukar pikiran dengan beliau tentang limbah batok ini, karena beliau memang suka dengan kesenian dan kerajinan tangan, jadi kami mudah menjelaskan tentang manfaat yang dapat diperoleh dari batok ini dan pada akhirnya kami bekerja sama membuat kerajinan dari bahan batok kelapa yang berbentuk perahu / sampan.

Adapun proses dari untuk membuat kerajinan dari batok kelapa ini yaitu pemilihan batok yang benar-benar tua dan kering, yang mempunyai ciri-ciri bagian potongannya mempunyai warna agak kehitaman. Selanjutnya menyiapkan alat yang dibutuhkan untuk membuat kerajinan tersebut seperti gergaji, amplas, lem, cat, dll. Lalu persiapkan batok yang akan diolah dan mulai dengan membersihkan sisa seraut yang ada di batok menggunakan amplas, setelah batok sudah halus langkah selanjutnya langsung potong dan bentuk sesuai kerajinan yang akan dibuat. Batok kelapa yang sudah melewati proses akhir bisa diubah menjadi sebuah kerajinan yang unik dan lucu serta bernilai jual tinggi. Dengan membentuk batok menjadi sebuah perahu atau bentuk lainnya maka bukan hanya anak-anak saja yang suka, bahkan golongan dewasa dan golongan orang kaya pun sangat berminat untuk menghiasi interior rumah mereka. Dengan menjadikan limbah batok menjadi sebuah kerajinan tangan yang unik dan menarik kita sudah membantu mengurangi efek negatif dari limbah tersebut dan juga sudah membantu memberikan manfaat membantu menambah pendapatan dari kerajinan batok tersebut. Jika kita sedikit berpikir lebih kreatif, maka limbah yang biasanya kita anggap tidak berguna bisa disulap menjadi kerajinan yang bernilai jual tinggi dan bisa menambah penghasilan.

Fenomena Tradisi Pertunangan Anak di Lapa Laok



           Nikah dini adalah fenomena yang sering terjadi di kepulauan Madura. Madura sendiri memakai hukum adat dalam mengawinkan anak-anak mereka. Hukum adat itu sendiri yaitu hukum peraturan tidak tertulis yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat yang hanya ditaati oleh masyarakat yang bersangkutan. Hukum adat mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dan elastis karena peraturan-peraturannya yang tidak tertulis.
Di Madura sendiri pernikahan tidak dibatasi usia. Di masyarakat Madura sendiri banyak yang kawin di usia muda bahkan ada yang kawin di usia yang belum baligh. Kebiasaan menikahkan anak yang belum baligh masih menjadi tradisi di daerah Sumenep, misalnya dengan tradisi yang terjadi di desa Lapa Laok Kecamatan Dungkek Kabupaten Sumenep. Kisaran umur perempuan yang menikah muda antara 3-15 tahun dan laki-laki antara 0-20 tahun. Pernikahan yang sudah baligh disahkan oleh Kyai daerah Sumenep dengan landasan Nabi Muhammad yang menikahi Aisyah di usia 6 tahun. Sedangkan pernikahan yang belum baligh, kyai Sumenep menganggap jenis ini hanya bentuk ikatan dua keluarga untuk saling mengawinkan anaknya sementara akad nikah baru dilaksanakan kalau pasangan tersebut sudah baligh.
Pernikahan di bawah umur juga bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya: pendidikan, ekonomi, kebiasaan dan adat istiadat. Misalnya dalam hal pendidikan, orang tua dari pihak perempuan yang tidak menginginkan anaknya untuk melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi karena ditakutkan dapat mempengaruhi pergaulannya dikemudian hari, sehingga orang tua memilih untuk menikahkannya. Dalam hal ekonomi, jika sudah bersuami (menikah) tentu perekonomian keluarga sedikit terbantu. Ada juga anggapan bahwa orang Madura sendiri masih memegang teguh dan melanjutkan apa yang pernah dilakukan oleh nenek moyang mereka di masa dahulu.
Tradisi atau kebiasaan yang kerap terjadi di tengah masyarakat tradisional, kadang dianggap aneh, tidak lazim bahkan menjadi lucu. Hal ini pula yang terjadi di masyarakat Desa Lapa Laok Kecamatan Dungkek  Kabupaten Sumenep. Tidak tampak sesuatu yang aneh dan menarik bila memasuki wilayah tersebut, Namun dari keunikan tradisi masyarakatnya ditempat itu pula terdapat tradisi masyarakat yang unik dan menarik yaitu tradisi pengantin anak (kecil), bukan pengantin anak-anak “tan-pangantaran” sebagaimana tradisi peminangan anak di Sumenep.
Pengantin anak, atau pengantin kecil, dilakukan sebagaimana pengantin dewasa, diselenggarakan secara formal sebagaimana terjadi pada orang dewasa. Sebagaimana terjadi pada pengantin dewasa, pengantin anak ini dilakukan dengan proses mulai awal peminangan, pertunangan (bebekalan) sampai proses resepsi perkawinan. Namun kali ini tidak dilakukan ijab kabul pernikahan.
Tradisi ini memang sudah lama berlangsung sejak nenek moyang mereka secara turun menurun. Perkawinan  usia dini dalam perpekstif hukum memang tidak menguntungkan, bahkan membelenggu hak-hak anak untuk menentukan pilihan hidupnya. Namun tradisi tetap tradisi, yang sering menjadi bagian pembenaran  pada masyarakat tertentu. Penjodohan sejak dini tampaknya sudah mendarah daging di wilayah pulau ini. Untuk itu, di pulau ini kerap sulit menemukan garis remaja yang singgle atau jomblo. Kecuali masyarakat tertentu yang mengabaikan tradisi tersebut.
Keramaian di bawah terop dan suara loudspeeker yang nyaring saja tidaklah lengkap tanpa diawali dengan arak-arakan sang mempelai. Dimulai dan diberangkatkan dari rumah besan (mempelai laki-laki) atau tempat yang dianggap tepat kearah menuju tempat hajatan, maka diarakkan pengantin anak itu dengan menunggang kuda, yaitu kuda kenca’ atau kuda serek dengan iringan musik saronen serta sejumlah pengantar (umumnya wanita)  dengan mengenakan pakaian adat rakyat Madura dengan membawa sejumlah bawaan (penampan)  beriringinan menuju tempat hajatan.
Pada  saat itulah, pergelaran menjadi menarik, selain terdapat kedua mempelai penagantin anak naik kuda, sang kudapun ikut menari-nari mengikuti irama saronen, sementara sang pengiring di bagian belakang kerap melemparkan senyum manis sebagaimana senyum kesederhaan gadis desa. Namun kerap yang terjadi, iringan-iringan itu tidak langsung menuju ke pelaminan, tapi justru diarahkan ke tempat guru ngaji, dimana kedua atau salah satu anak belajar mengaji atau sesepuh keluarga/masyarakat mereka untuk meminta doa restu. Baru pada malam harinya, kedua mempelalai di didudukkan disinggasana pelaminan.

Meski telah menjadi pengantin, setlah acara hajatan ini berakhir, kedua anak tersebut tentu tidak ditempatkan dalam satu kamar bersama. Disini tidak ada bulan madu, tidak ada malam pertama. Setelah itu, mereka dipulangkan ke rumah masing-masing untuk kemudian, ya seperti anak-anak umumnya, mereka bermain lain dengan anak-anak sebayanya. Tanpa beban, tanpa harus melakukan ritual lainnya. Uniknya meski sang punya hajat harus mengeluarkan anggaran cukup besar, konon kisaram 75 – 150 jutaan itu, namun demikian secara berlanjut perayaan hajatan pengantin macam itu terus berlangsung dan sampai sekarang masih tetap berlangsung.

Senin, 24 Juli 2017

Gula Aren Sebagai Pemanis Alternatif


  Siwalan juga di kenal dengan nama pohon lontar atau tal (Madura:Ta’al) merupakan sebuah tanaman multiguna karena hampir semua komponennya dapat dimanfaatkan. Siwalan banyak tumbuh di daerah dekat pantai, seperti di desa Lapa Laok, kecamatan Dungkek, kabupaten Sumenep. Desa ini memiliki potensi utamanya berupa siwalan. Siwalan mulai dari daun, buah dan kayu dapat dimanfaatkan berbagai jenis kerajinan. Perlu kita ketahui bahwa daun siwalan bisa digunakan sebagai bahan kerajinan. Barang kerajinan yang dibuat dari daun siwalan salah satunya adalah tikar. Buahnya juga dapat kita konsumsi loh..kawan...
            Namun, di desa Lapa Laok hanya memanfaatkan nira siwalan untuk diolah menjadi gula aren, sedangkan buahnya tidak diolah atau tidak digunakan. Kebanyakan dari mereka membuang buah siwalan. Mungkin mereka sudah bosan karena setiap hari sudah mengkonsumsi buah tersebut. Sedangkan, kita yang  di daerahnya tidak ada potensi buah siwalan ingin mengkonsumsi buah tersebut. So, if you want eat siwalan, come on to Lapa Laok village, Madura.. it is a beautiful village..right??

            Pengen tau cara pembuatan gula aren?? Pertama, seseorang menaruh timba di ranting pohon siwalan untuk mengadahi air siwalan dan hasil air siwalan tersebut diambil pada waktu pagi hari. Setelah itu, air siwalan di masak di wajan kurang lebih 8 jam sampai nira siwalan tersebut menjadi kental dan  berubah warna. Kemudian, di cetak dalam wadah seperti mangkok. Warga biasanya menjual satu mangkok dengan harga 8 ribu. 

Selasa, 18 Juli 2017

PROFIL DESA LAPA LAOK


A. LETAK GEOGRAFIS

Desa Lapa Laok terletak di kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep. Terletak di ujung timur pulau Madura dengan jarak sekitar 30 kilometer dari pusat kota. berada di ketinggian kurang lebih 5-40 meter dpl. Wilayah Lapa Laok terdiri dari wilayah daratan dan perairan, sehingga memiliki potensi sumber daya alam yang besar. Di sebelah utara desa Lapa Laok berbatasan dengan desa Lapa Daya, sebelah timur berbatasan dengan laut Jawa, sebelah selatan berbatasan dengan selat Madura, dan sebelah barat berbatasan dengan desa Dungkek.
  Wilayah daratan Lapa Laok memiliki luas kurang lebih 419,3 Ha. Wilayah ini selain digunakan sebagai lahan pemukiman, juga digunakan untuk pemakaman, pertanian, perkebunan, perkantoran, pertokoan, industri, dan pelabuhan umum. Desa Lapa Laok terdiri dari empat dusun, yakni dusun Bujaan, dusun Todingding, dusun Buraja, dan dusun Buddi. Terdiri dari empat RW dan dua belas RT.

B. KONDISI PENDUDUK
  Penduduk desa Lapa Laok terdiri dari 2370 jiwa penduduk dengan rincian 1144 jiwa laki-laki dan 1226 jiwa perempuan. Berdasarkan pekerjaannya, jumlah tersebut terdiri dari pertanian/peternakan, perdagangan, industri, jasa kemasyarakatan, konstruksi, pemerintahan, pelajar/mahasiswa, swasta, wiraswasta, dan pengangguran
  Sedangkan sumber daya manusia yang mampu berkontribusi memajukan desa lapa laok deilatar belakangi oleh lulusan perguruan tinggi, banyaknya jumlah sumber daya manusia perempuan produktif, kemampuan bercocok tanam yang diturunkan secara turun menurun, kemampuan di bidang meubel/kerajinan tangan, serta berbagai macam pekerjaan masyarakat Lapa Laok yang telak disebutkan diatas.

C. POTENSI DESA
  Di bidang pertanian dan perkebunan terdapat berbagai macam tumbuhan yang berpotensi dijual di pasar, diantaranya padi, kacang, kedelai, siwalan, cabe jamu, semangka serta kelapa. produksi kelapa sendiri merupakan pencapaian terbesar di Kecamatan Dungkek.
  Di bidang perikanan Lapa Laok memiliki potensi ikan teri yang dijual dalam kondisi kering atau basah. walaupun pengelolaannya masih tergolong tradisional, kualitas perikanan di Lapa Laok mampu bersaing di luar Indonesia. nyatanya produk perikanan di Lapa Laok sudah pernah di ekspor ke Jepang, Korea dan Taiwan.


  Selain itu desa Lapa Laok juga memiliki potensi wisata yakni Pantai Totaleh. Karakter pantai ini mirip dengan Pantai Lombang yang ada di sebelah utara kabupaten Sumenep. Hamparan pasir berwarna cokelat serta banyaknya pohon kelapa di sepanjang garis pantai merupakan ciri khas pantai ini. Nilai lebih pantai ini adalah view pemandangan yang tidak bisa ditemukan di pantai lain yakni pemandangan pulau Sapudi, Potteran, dan Gili Iyang sekaligus.